Saturday, January 25, 2014

Sebuah Cerita Tentang si Pecundang

Pernah baca buku atau nonton film dimana tokoh utamanya membandingkan kehidupannya saat ini dengan masa lalu?
Atau cerita mengenai reuni sekolah setelah bertahun-tahun terpisah?
Pernah memperhatikan pasti selalu ada seorang tokoh yang merasa terasing, berbeda sendiri dengan teman-temannya yang telah mencapai banyak hal?
Tokoh itu, akan diam sendiri diantara kerumuman teman-temannya, yang dahulu bisa dengan mudahnya dia ajak berbicara.
Dia akan berdiri tanpa mencoba mencolok, memperhatikan teman-temannya bertukar kabar dan tersenyum ketika diajak berbicara.
Dia akan diam memandang teman-temannya yang sudah mempunyai pasangan masing-masing ataupun berkeluarga;
Melihat teman-temannya bercerita mengenai pencapaian karirnya masing-masing, sudah berapa gaji mereka, sudah bisa beli apa saja, sudah punya apa saja;
Dia akan menyadari bahwa teman-temannya berubah, lebih kurus, lebih wangi parfum mahal, pakaiannya dari merek berkelas, dan menenteng kecanggihan teknologi terbaru.
"Kamu kerja dimana? Mobilmu apa? Kekasihmu siapa?" mereka akan sibuk bertanya, dan dia, tokoh itu hanya menjawab seadanya.
Tidak, pekerjaannya tidak stabil dan bergaji kecil katanya, dan tidak tidak, dia sampai saat ini hanya sendiri, dan ya, dia datang menggunakan kendaraan umum.
Teman-temannya akan tersenyum dan mengangguk-angguk, membicarakan akan pergi kemana setelah reuni iu. Sebuah bar dengan anggur mahal, atau restaurant yang baru buka mungkin?
Dan dia akan menggumam pelan bahwa masih ada yang perlu dia kerjakan dan dia akan pulang duluan. Silahkan teman-temannya pergi tanpa dia.
Teman-temannya akan memandang dia dan mengucapkan selamat tinggal tampa berusaha sekalipun menahannya.
Didalam perjalanan pulang dia akan memeriksa dompetnya dan menghela nafas, membatin bahwa sebenarnya dia tidak punya cukup uang untuk bersenang-senang bersama teman-temannya dan lebih memilih menonton televisi dibalik selimut nyaman dikamarnya yang tidak membutuhkan biaya apapun.

Tokoh itu, seorang pria, atau seorang wanita,
akan jarang diingat dikemudian hari oleh teman-teman masa lalunya.
Tidak akan diundang di acara kumpul-kumpul lagi karena terlalu membosankan, tidak bisa diajak kemana-mana dan tidak kenal mode jaman sekarang.
Demikian tokoh itu hanya akan sekali-sekali muncul, mungkin di foto bertahun-tahun lalu atau pelengkap sebuah cerita.
Namanya akan jadi ganjalan di undangan pernikahan, 'Ada yang kurang, siapa ya?' demikian dia akan dikenang.

Bukan berarti dia tidak punya teman, hanya teman-temannya berbeda sekali dengan teman-temannya di masa lalu yang sangat berubah sekarang.
Tokoh itu akan pergi pagi-pagi dan pulang larut malam.
Melakukan hal-hal sederhana dengan orang-orang yang sederhana pula.
Yang tidak menuntut apa-apa kecuali yang ada padanya.
Yang berasama mereka sang tokoh menemukan kenyamanan dari serba kekurangan.

Hanya saja, tokoh itu akan berpikir, betapa cepatnya hal-hal berubah dan dia sedikit ditinggalkan.
Ditinggalkan atau memilih jalan berbeda, samakah itu?
Dia berpikir, sederhananya hidup teman-temannya yang begitu cepat berpindah jalan
Begitu damainya kehidupan mereka dalam balutan pakaian kerja, peralatan elektronik yang dicicil dari uang gaji, kerja lembur dan jam-jam dikafe mahal pada akhir minggu.
Dan kekasih yang selalu ada saat dibutuhkan.

Tokoh itu kebanyakan diberi peran seorang pecundang, looser yang tidak sesukses teman-temannya.
Dalam setiap lingkaran pertemanan selalu ada seseorang yang tidak berhasil dan namanya hanya menggenapi masa lalu.
Seseorang yang tidak banayak berubah, pakaiannya masih murah dan keuangannya
selalu sulit.
Seseorang yang akan disalami dan kemudian dibiarkan sendiri.

Tokoh itu akan terus menerus mencari tahu, apa yang salah?
Apa yang dilewatinya sehingga dunia berputar terlalu cepat meninggalkannya?
Kemana saja tahun-tahun yang dilewatinya tanpa semua material duniawi yang tidak pernah didapatkannya?
Kemana perginya seorang pasangan yang mengerti kompleksitas pikiran dibalik pakaian sederhananya?
Tokoh itu banyak berpikir, dan tidak akan ada seorangpun yang mendengar pikirannya dibalik potongan rambut tua dan dandanan ketinggalan jaman.

No comments:

Post a Comment