Engkau bagiku pelawak nomor satu di dunia
Komedian, sang pemberi tawa
Humormu kadang getir, satir dan nyinyir
Dan kadang membuatku mengernyitkan kening saat tersenyum pahit
Engkau menyelipkan komedi di tiap kemana aku melangkah
Saat aku memalingkan muka Kau mainkan skenario terbaikmu
Kau sang maha mengajari
Memberiku arti bahwa yang jauh terkadang sangat dekat
Bahwa yang dihindari seringkali menarikmu dan ogah melepasmu lagi
Kau mengajariku arti takut
Lari
Dan menghindar
Dan di babak kedua kau memberiku Sang Ketakutan itu
Kau memberi adegan terbaik
Bahwa Sang Takut bisa takluk oleh Sang Percaya
Kau mengajariku bahwa dunia tidak sebatas hitam dan putih
Bahwa tempatku selamanya di abu abu
Kau mengajariku mendengarkan
Dan terkadang mendengar saja cukup bagi Sang Terkasih
Kau mengajariku menikmati rasa getir
Kau menempatkanku pada panggung panggung terbaik
Bukan sebagai penonton, tapi Kau beri peran utama
Kau mencampuradukkan pengalaman, waktu dan ketakutan
Dan memberiku Cinta diujung tawa
Komedian sejati tidak pernah memberi bunga
Pun janji manis serta hidup yang mudah
Penulis skenario terbaik membiarkan pemainnya berimprovisasi
Menikmati lampu sorot, riuh rendah dan tepuk tangan
Pemain kesayanganMu mencintai setiap titik koma jalan ceritaMu
Nyinyirmu adalah bayaran
Bahwa terkadang aku ingin lari tapi Kau tak jemu menguatkan
Bahwa aku lebih dari sekedar takutku
Bahwa aku adalah pemegang utama tawa hidupku
SetiaMu adalah Kau yang tetap tersenyum
Menunaikan janjiMu untuk tetap ada walau lampu panggung kadang temaram
WajahMu terus bersinar
Walau sering aku memalingkan pandanganku
SatirMu adalah ketika aku sadar hidup terlalu jemu bila diberi makna
Bahwa batasan manusia bukanlah batasan batasanMu
Bahwa Kau lebih dari sekedar itu
Dan aku lebih dari sekedar diam
Dasar Kau maha pemberi senyum
Masih sanggup tertawa saat aku tertegun
Sanggup mencinta saat aku berhenti
Sanggup bersamaku saat aku selalu tersesat
No comments:
Post a Comment