Thursday, December 17, 2015

Bahagia Untukku

Bahagia untukku adalah jam-jam yang kita habiskan dalam saluran telepon
Gelak tawa dan jeda diantara helaian nafas yang dinikmati dalam diam
Saluran yang diputus karena paketnya habis dan membuatku geleng-geleng kepala
Ternyata berbicara denganmu adalah hobi terbaruku 
hingga 6 jam yang disediakan 3.500 rupiah perhari seringkali terasa tidak cukup

Bahagia untukku adalah hari-hari yang kutandai di kalendar menunggu kau datang kembali
Kalimat merindu sederhana yang seringkali hampir kehilangan makna
Karena kata rindu tidak lagi cukup mewakili rasa ingin bertemu

Bahagia untukku adalah tangan yang sama-sama tertangkup dalam doa
Lutut yang beradu tatkala bertelut di hadapanNya
Keheningan mata yang terpejam saat lilin-lilin didepan altar Bunda meleleh satu-satu
Dan namamu serta namaku beradu satu sebelum kata amin

Bahagia untukku adalah tersesat dalam kota yang sudah kutinggali selama 7 tahun ini
Kau tidak pernah marah, melainkan menikmati setiap detik kekonyolan kita
Dengan sabar mencari jalan demi jalan
Tanpa satupun nada suaramu meninggi
Kau sabar menghadapi kepanikanku

Bahagia untukku adalah hujan yang jatuh membahasi rambut kita
Menunggu berjam-jam adalah waktu-waktu yang begitu kucintai
Tetes demi tetes air yang tertumpah
Dalam diam aku tahu kau disampingku

Bahagia untukku adalah rejeki yang kita bagi dalam satu piring
Tertawa di atas gelas ronde jahe, roti kukus, nasi timbel atau tongseng sapi
Menakar harga yang terkadang membuat kita geleng-geleng kepala
Dan menikmati setiap kunyahan karena tau setiap butir nasi tidak boleh disia-siakan

Bahagia untukku adalah suara tawamu yang membuat jantungku berdebar
Suara tawa kecil yang seakan mengejek dunia
Mengejek dan mempertanyakan
Kenapa aku dan kau baru dipertemukan sekarang?

Bahagia untukku adalah tatapanmu disela-sela tawaku yang tidak terkendali
Saat aku dan kau tertawa, tetapi kau tiba-tiba diam dan tersenyum menatap wajahku
Syukurmu terasa sampai ke udara
Dan lengkap sudah kekosongan yang selama ini selalu kuhitung

Dalam jalinan tangan, belaian rambut, ucapan sayang, dan bahagia 
Tak henti kuucap syukur karena kau menemukanku
 Karena ku menemukanmu

Kita tidak pernah lengkap
Tapi aku dan kau saling memungut pecahan yang tersisa

Tak usah menjadi satu yang utuh
Biarlah kita setengah yang menjadi satu
Saling melengkapi

Dan bila tiba saatnya Dia yang menggenapi

-MPMB - VCIT


No comments:

Post a Comment