Thursday, August 7, 2014

Farewell My Dearest Rudyanto Xim

Hai ko..
Saat aku nulis ini, you're on your way back to your home.
Safe and sound, you're probably hugged by your mother.
Papamu berbisik padamu "Kita pulang ya."
Dan mamamu menciummu "Kau tak kan pernah kutinggalkan lagi nak."
Adikmu menatapmu. "Kugantikan kau menjaga papa dan mama ko. Beristirahatlah dengan tenang."


Rudyanto Xim.
Rokokmu selalu menthol. Entah L.A Menthol atau Marlboro Ice Blast.
Maaf ko, aku menang kali ini darimu.
Ko we've been in horror for 4 days since your friends found your body.
2 Agustus 2014
AKu tidak peduli apa yang ditulis orang-orang.
Buatku kau selalu koko dengan tampang mengantuk yang memakai headset saat sedang berada di angkot.
Aku tidak tahu temanmu sebanyak ini ko :)
Tidak usah takut tidak bisa menjaga anak bebek lagi, mereka sudah besar dan akan belajar tertawa tanpamu
Tidak usah takut aku kesepian. Aku memang akan selalu kesepian tanpamu. Tapi kau hanya sejauh doa kan?
Istirahat yang tenang.
In Memoriam Rudyanto Xim


Alumnus FISIP UNPAR.
Jauh-jauh dari Tanjung Pinang, kita bertemu disini, di Bandung
Kau tidak tinggi, kira-kira sama denganku.
Cuma kau kurus sekali ko.
Kau pernah beujar "Harusnya kita gantian la. Kalau aku bajunya selalu longgar, kalau kau bajunya selalu kesempitan."
Bahkan ukuran sepatumu sama denganku.



Holy Grailmu adalah wax rambut. "Can't live without it." katamu.

Kau bukan tipe manusia yang bawa-bawa powerbank kemana-mana, karena handpone mati bukan kiamat untukmu.
Your lifestyle is your pride.
"I live my life fabulously." katamu.
Itu alasanmu tidak mau pulang dan bekerja di tempat asalmu.
Karena menurutmu kau tidak bisa melakukan apapun disana. Terlalu dibatasi.

Aku duluan S2 ya ko. Nanti kalau aku diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku lagi, kuwakilkan kau sekolah lagi.

Cuma sekolah kehidupanmu sudah lulus. Kau menang dariku. Pelajaranku belum tamat, tapi kau sudah duluan. Dengan gelar gemilang "akan dirindukan semua orang."

I've been denied it since then, until now.

Mungkin hanya karena aku takut rindu.
Aku takut bingung

Kami tidak bisa puas menangis ko, karena kami tidak tahu itu koko apa bukan.

3 Agustus 2014
Orang yang merengut nyawamu bukan manusia ko.
4 Agustus 2014
Kusampaikan pesanmu pada keluargamu.
Aku belum menangis
Kutahan air mataku agar orangtuamu kuat
Kami jaga orangtuamu ko, jangan takut
5 Agustus 2014
Didalam petimu, akhirnya aku harus menyerah kalah.
Terimakasih untuk semuanya ko.
Kurelakan kau pulang.
Kurelakan kau pergi kembali pulang ke rumah.

Mereka bukan orang yang kau telpon ketika kau bosan.

Mereka bukan orang yang menemanimu menghabiskan penghujung malam dengan sekedar merokok, makan burger murah atau nonton dvd bajakan.
Aku tidak peduli kau jatuh cinta pada siapa.



Yang mengambil jalur kanan saat berjalan bersamaku di tepi jalan.

Yang mengantarku sampai depan kostan dan memastikan aku aman.
Yang mendengarkanku menangis tanpa cerewet dan mencoba menasihati kapanpun aku merasa lemah.
Yang menjaga segerombolan wanita gaduh yang kau sebut "anak bebek" kapanpun kita kumpul-kumpul bersama
Yang mau dipanggil "kokoh" oleh anak-anak bebek itu. Bukan mau, lebih tepatnya pasrah :D
Yang setia update gosip-gosip terbaru
Yang nyinyir dan tertawa
Yang mengantuk dan bosan
Yang menyebalkan dan dicintai
Yang akan dirindukan

Yang aku tahu hanya kau akan selalu dikenang

Kau akan selalu diingat
Tenang-tenang ya ko
Tenang disana

Iya ko, mereka tidak akan pernah lagi pulang pagi dini hari, karena sudah tidak ada koko lagi yang menjaga mereka

Tidak usah takut tentang teman-temanmu yang berada diluar kota
Masih ada kita disini menggantikanmu
Kamu semua akan berpisah dan hidup masing-masing pada akhirnya
Tapi koko akan selalu jadi bagian dari kami




Senyumlah sekali-sekali saat melihat kami merindukanmu

Dan senyumlah juga saat kau merindukan kami
Kami sayang kau ko :)
We'll always love you.



16 Agustus 1990 - 1 Agustus 2014

Sahabat, Kokoh, Rekan berkompetisi dalam kehidupan

No comments:

Post a Comment