Sunday, February 10, 2013

Surat Untuk Teman Kecilku


Hai anakku
Terimakasih sudah duduk diam dan mendengarkan
Entah menyimak atau membaca, terserah bagaiamana engkau mau memahaminya
Aku sahabatmu menulis untukmu, kalau-kalau nanti engkau akan lupa apadaku
Namaku?
Ah aku tidak punya kuasa sebesar itu untuk melabeli diriku sendiri
Ada yang bilang namaku intuisi, ada yang berkata suara hati, ada pula yang menyebut kenaifan kanak-kanak
Aku ini boneka beruangmu yang kau simpan karena sudah berubah warna, es krim murah yang katamu membuatmu sakit gigi, kelopak bunga yang tidak akan lagi kau hitung, ingatanmu tentang warna awan yang ternyata lebih cerah dari yang kau lihat saat kau menengadahkan kepalamu nanti
Seyogiayanya kita satu, pun kamu akan menemukan sebutan bagi keberadaanku

Nak, sekiranya nanti kamu menangis bukan lagi karena lutut yang terluka, melainkan hati yang patah, ingat-ingatlah aku pernah menuliskan ini untukmu
Sahabatku, aku adalah engkau yang tertinggal untuk membuatmu tidak terlupakan
Aku adalah engkau yang menolak lupa
Atau aku hanya keping kecil kebodohan masa lalu yang tertinggal saat semua sudah pergi dan beranjak

Nak, aku ingin mengingatkan bagaimana rasanya percaya
Seandainya nanti kamu sudah kehilangan harapan
Dan sudah lupa bagaimana menggantungkan diri pada hari esok
Karena sayang, manusia adalah pembunuh empati paling kejam yang akan kamu kenal
Nak, tolong jangan lupa untuk percaya
Tolong ingat bagaimana rasanya percaya bahwa ibu adalah tempat terbaik untuk pulang dan ayah adalah suara terindah pada malam-malam ia mendongeng untukmu
Tolong ingat bagaimana rasanya percaya genggaman tangan pada malam hari adalah penawar kecewa saat nilaimu jelek atau hadiah untukmu tidak sesuai apa yang kau minta

Nak, aku ingin mengingatkanmu agar kembali pulang
Karena kadang kamu menjadi orang yang ditinggalkan sendiri
Saat kamu dan dia sudah berjanji berjalan bersama dalam simpangan-simpangan gelap dan tahu-tahu genggamannya hilang darimu
Atau kamu yang meninggalkan dia
Semua membuatmu tidak percaya pada rumah
Nak, pulanglah
Pulang pada senyuman dan pelukan dan pada kasih
Pada kehangatan dan jerit tawa dan pada malam yang menciummu dan mencintaimu lebih daripada kamu mencintai bintang

Nak, aku ingin mengingatkanmu pada hakikat kasih
Karena kamu akan bertemu cinta, pada banyak sekali cinta
Bertemu ciuman, pelukan, godaan dan kerlingan mata
Tetapi kasih, ah dia tetap tinggal bersamaku
Terkubur bersama ingatan-ingatan awal kala kamu belum mengenal gairah
Kasih, sahabatku, sekiranya adalah cinta yang belum berfermentasi
Sedangkan cinta yang akan kamu temui, adalah kasih yang tertiup angin terlalu lama hingga masuk angin
Terlalu alot untuk dipahami jiwamu yang serasa tidak akan pernah mengerti bagaimana mencintai dan dicintai
Nak, kasihilah, karena kadang mencintai tidak akan cukup

Sayang, aku ingin mengingatkanmu ketika warna hanyalah nama-nama krayon pada buku gambar A4mu yang sederhana
Bukan alasan untuk tidak mengasihi, dan mengkerdilkan arti dari keberadaan seseorang
Sekiranya warna yang akan kamu kenal tidak seindah gambaranmu dulu tentang rupa tujuh garis pelangi
Warna yang kamu tahun, adalah label
Label, katamu?
Ya, suatu saat kamu akan memberi nama bagi manusia, memberi label seakan-akan dia barang jualan toko permen yang kamu beli sepulang sekolah
Mengerikan! Katamu sekarang
Ah sahabat, percayalah nanti kamu akan lupa pada kata mengerikan itu

Nak, aku ingin mengingatkanmu untuk kembali menjadi manusia
Terimakasih mau mendengarkanku, karena nanti saat kamu membaca ini suara tawalah yang akan keluar
Menjadi manusia nak, menjadi mahluk yang mengerti empati
Karena nanti kau bisa menjadi mahluk lebih dingin dari besi yang berjalan bahkan tidak menengadah untuk memperhatikan bentuk bentuk awan
Tidak ada waktu! Katamu nanti
Jadi manusia nak, manusia yang punya dua tangan, satu untukmu satu untuk orang lain
Yang punya telinga untuk memahami tidak sekedar mendengar
Yang punya kasih bukan sekedar keinginan
Nanti kamu akan terlalu sibuk mengejar cita-cita
Atau lebih buruk, tidak punya cita-cita
Sementara kamu akan berputar-putar dalam perjalananmu, mngira-ngira bagaimana menilai apa yang kamu lakukan benar atau tidak
Masih sempatkah? Sudah terlambatkah?
Hakikatmu nanti adalah pembagian detik dan menit
Bukan satu hari yang terdiri dari pagi siang sore dan malam

Anakku, tolong belajar mengingat nanti
Belajar memahami
Bahwa aku yang tertinggal hanya begitu mencintaimu dan bahwa setiap waktu aku mencoba agar engkau selalu membaca surta ini
Sekiranya nanti akan lebih sulit memahami surat ini , sayang, ingatlah membaca dengan bahasa universal, dengan bahas akasih.

No comments:

Post a Comment