Hai anakku
Terimakasih sudah duduk
diam dan mendengarkan
Entah menyimak atau
membaca, terserah bagaiamana engkau mau memahaminya
Aku sahabatmu menulis
untukmu, kalau-kalau nanti engkau akan lupa apadaku
Namaku?
Ah aku tidak punya kuasa
sebesar itu untuk melabeli diriku sendiri
Ada yang bilang namaku
intuisi, ada yang berkata suara hati, ada pula yang menyebut kenaifan
kanak-kanak
Aku ini boneka beruangmu
yang kau simpan karena sudah berubah warna, es krim murah yang katamu membuatmu
sakit gigi, kelopak bunga yang tidak akan lagi kau hitung, ingatanmu tentang
warna awan yang ternyata lebih cerah dari yang kau lihat saat kau menengadahkan
kepalamu nanti
Seyogiayanya kita satu,
pun kamu akan menemukan sebutan bagi keberadaanku
Nak, sekiranya nanti kamu
menangis bukan lagi karena lutut yang terluka, melainkan hati yang patah,
ingat-ingatlah aku pernah menuliskan ini untukmu
Sahabatku, aku adalah
engkau yang tertinggal untuk membuatmu tidak terlupakan
Aku adalah engkau yang
menolak lupa
Atau aku hanya keping kecil
kebodohan masa lalu yang tertinggal saat semua sudah pergi dan beranjak
Nak, aku ingin
mengingatkan bagaimana rasanya percaya
Seandainya nanti kamu
sudah kehilangan harapan
Dan sudah lupa bagaimana
menggantungkan diri pada hari esok
Karena sayang, manusia
adalah pembunuh empati paling kejam yang akan kamu kenal
Nak, tolong jangan lupa
untuk percaya
Tolong ingat bagaimana
rasanya percaya bahwa ibu adalah tempat terbaik untuk pulang dan ayah adalah
suara terindah pada malam-malam ia mendongeng untukmu
Tolong ingat bagaimana
rasanya percaya genggaman tangan pada malam hari adalah penawar kecewa saat
nilaimu jelek atau hadiah untukmu tidak sesuai apa yang kau minta
Nak, aku ingin
mengingatkanmu agar kembali pulang
Karena kadang kamu
menjadi orang yang ditinggalkan sendiri
Saat kamu dan dia sudah
berjanji berjalan bersama dalam simpangan-simpangan gelap dan tahu-tahu
genggamannya hilang darimu
Atau kamu yang
meninggalkan dia
Semua membuatmu tidak
percaya pada rumah
Nak, pulanglah
Pulang pada senyuman dan
pelukan dan pada kasih
Pada kehangatan dan jerit
tawa dan pada malam yang menciummu dan mencintaimu lebih daripada kamu
mencintai bintang
Nak, aku ingin
mengingatkanmu pada hakikat kasih
Karena kamu akan bertemu
cinta, pada banyak sekali cinta
Bertemu ciuman, pelukan,
godaan dan kerlingan mata
Tetapi kasih, ah dia
tetap tinggal bersamaku
Terkubur bersama
ingatan-ingatan awal kala kamu belum mengenal gairah
Kasih, sahabatku,
sekiranya adalah cinta yang belum berfermentasi
Sedangkan cinta yang akan
kamu temui, adalah kasih yang tertiup angin terlalu lama hingga masuk angin
Terlalu alot untuk
dipahami jiwamu yang serasa tidak akan pernah mengerti bagaimana mencintai dan
dicintai
Nak, kasihilah, karena
kadang mencintai tidak akan cukup
Sayang, aku ingin
mengingatkanmu ketika warna hanyalah nama-nama krayon pada buku gambar A4mu
yang sederhana
Bukan alasan untuk tidak
mengasihi, dan mengkerdilkan arti dari keberadaan seseorang
Sekiranya warna yang akan
kamu kenal tidak seindah gambaranmu dulu tentang rupa tujuh garis pelangi
Warna yang kamu tahun,
adalah label
Label, katamu?
Ya, suatu saat kamu akan
memberi nama bagi manusia, memberi label seakan-akan dia barang jualan toko
permen yang kamu beli sepulang sekolah
Mengerikan! Katamu
sekarang
Ah sahabat, percayalah
nanti kamu akan lupa pada kata mengerikan itu
Nak, aku ingin
mengingatkanmu untuk kembali menjadi manusia
Terimakasih mau
mendengarkanku, karena nanti saat kamu membaca ini suara tawalah yang akan
keluar
Menjadi manusia nak,
menjadi mahluk yang mengerti empati
Karena nanti kau bisa
menjadi mahluk lebih dingin dari besi yang berjalan bahkan tidak menengadah
untuk memperhatikan bentuk bentuk awan
Tidak ada waktu! Katamu
nanti
Jadi manusia nak, manusia
yang punya dua tangan, satu untukmu satu untuk orang lain
Yang punya telinga untuk
memahami tidak sekedar mendengar
Yang punya kasih bukan
sekedar keinginan
Nanti kamu akan terlalu
sibuk mengejar cita-cita
Atau lebih buruk, tidak
punya cita-cita
Sementara kamu akan
berputar-putar dalam perjalananmu, mngira-ngira bagaimana menilai apa yang kamu
lakukan benar atau tidak
Masih sempatkah? Sudah
terlambatkah?
Hakikatmu nanti adalah
pembagian detik dan menit
Bukan satu hari yang
terdiri dari pagi siang sore dan malam
Anakku, tolong belajar
mengingat nanti
Belajar memahami
Bahwa aku yang tertinggal
hanya begitu mencintaimu dan bahwa setiap waktu aku mencoba agar engkau selalu
membaca surta ini
Sekiranya nanti akan
lebih sulit memahami surat ini , sayang, ingatlah membaca dengan bahasa
universal, dengan bahas akasih.
No comments:
Post a Comment