Orang bilang, cinta yang
paling luar biasa adalah saat kau punya keberanian untuk melepaskan seseorang.
“If you love someone, let
him go. If he returns he was ever yours. If he doesn’t, he was never yours.”
Benarkah?
Apakah perasaan
yang kau bilang sedemikian kuat itu ditentukan permainan untung-untungan, kau
serahkan sepenuhnya ke tangan nasib?
“Bila demikian adanya,
demikian terjadilah”
Dapatkah cinta ditentukan
waktu, dan bukan oleh perbuatan?
Adilkah kau mengatakan
cinta itu menunggu, sementara harganya tidak ditentukan upaya dan usahamu?
Bagaimana bila kukatakan,
bahwa cinta pun menua?
Cinta tidak bisa
menunggu, duduk tenang di ambang jendela.
Menikmati senja sembari menanti dia
yang telah tertuliskan untuk bersamamu.
Cinta seperti itu,
cintamu yang menunggu, adalah nenek-nenek tua beramput putih dan kornea matanya
telah rusak.
Saat kekasihmu datang, dia hanya menangkap bayangan, tidak lagi
sosok sempurnanya yang pernah begitu kau puja.
Cinta akan pikun.
Berani taruhan
dia akah lupa padanya yang kau nanti.
Kau beruntung bila
cintamu telah bersisian.
Kau mendapatkan koin dua sisimu, cinta berbalas.
Apalagi yang lebih indah dari itu?
Maka biarlah kami yang
merasakan getir ini menuliskan untukmu, apa yang mungkin pernah, atau tidak kau
alami
Cinta tak berbalas
Dan masih mencintai
sesudahnya
Cinta bagi kami adalah
ketika perasaan mengalahkan ego.
Cinta itu adalah
kehadiran.
Cinta itu adalah
bersisian sempurna, mutlak tanpa absen, apalagi hilang.
Cinta adalah ketika kita
berhasil mengalahkan rasa malu.
Ketika saat cinta tak berbalas, kau tidak
meninggalkannya, apalagi melepasnya.
Tetapi tetap memilih tempat disampingnya.
Menjadi sahabatnya, melepaskan kerinduan untuk mengucapkan “aku mencintaimu”,
dan mengatakan “aku tidak pernah meninggalkanmu”
Itulah cinta buatku.
Cinta itu anugerah untuk lebih bersyukur..cinta itu tidak pernah memiliki alasan apapun..
ReplyDelete