Seorang putri suatu hari bertemu pangerannya.
Ya, gadis ini seorang putri!
Tidak ada yang pernah bertanya dia seorang putri yang sebetulnya atau tidak. Semua orang hanya tahu bahwa dia adalah seorang putri, dengan mahkota gaun dan kerajaan, tidak pernah ada yang menyangsikan.
Dia seorang putri yang sudah tertidur begitu lama.
Dulu, dahulu sekali, dia tertidur karena apel beracun sang penyihir.
Dia tertidur, dibaringkan didalam istana kacanya yang indah.
Dijaga, dan dilindungi, karena dia adalah seorang putri.
Pada akhirnya putri itu lelah tertidur
Dulu, dahulu sekali dia telah dijanjikan oleh penyihir nakal itu
Yang diam-diam mengendap-endap dalam kerajaan kecilnya
Dengan senyum jahil memberinya apel beracun.
Tidak ada yang menyalahkan sang putri
Karena, oh, apel si penyihir sungguh menggoda. Warnanya merah, wanginya semerbak.
Siapa yang bisa menyalahkan dia kalau ternyata rasa apel itu begitu lezat?
Tidak ada yang bisa menyalahkan sang putri yang akhirnya tertidur begitu lama.
Tetapi dia bosan.
Bosan menunggu janji sang penyihir.
Dulu, dahulu sekali, si penyihir berjanji padanya
: Satu kecupan, satu kecupan saja putri kecil, kau akan terbangun dari mimpi panjangmu.
Tunggulah pangeranmu, dan aku berjanji semua kutukan ini lenyap dari paras indahmu.
Maka setelah semua detik yang dihitung sang putri dalam tidur panjangnya
Semua hari yang telah dinanti-nantinya penuh harap
Semua tahun yang berlalu dan dia tetap sabar menunggu
Oh lihatlah si putri cantik itu
Tertidur dengan indahnya.
Betapa wajahnya berseri menunggu satu kecupan dari pangeran tercintanya
Istananya gemilang indahnya
Setiap hari dibersihkan dan dirawat, bila suatu saat sang pangeran akan membawa dia dari semua mimpi-mimpinya.
Tetapi tidak
Tahun-tahun yang dibuang putri tidur tidak membawa apa-apa baginya
Memang sekali-sekali seorang saudagar datang padanya
Melihat kecantikan wajah tertidurnya
Atau seorang ksatria tanpa kuda datang menjenguknya
Dan bahkan seorang pejalan kaki setia melihatnya dari jauh.
Tetapi dimana sang pangeran?
Tidak pernah sekalipun sang pangeran yang dijanjikan si penyihir datang kedalam istana itu.
Maka si putri lelah bermimpi.
Dengan kesedihan yang memuncak dia bangun, dan mencari sang pangeran diluar batas wilayah kerajaannya.
Dia mencari.
Lihatlah, dengan pakaiannya yang gemilang, dengan wajahnya yang pucat luar biasa indahnya karena penantian.
Dia berjalan kaki.
Dengan segala kerendahatian mencari setiap sudut kotanya untuk menemukan pangerannya.
Oh dia akhirnya memang bertemu pangerannya.
Lihatlah si pangeran tampan itu, begitu gagah sedang duduk diatas kudanya yang berwarna hitam
Si putri jatuh cinta pada pandangan pertama
Dia jatuh cinta, sehingga berterimakasih atas apa yang dilihatnya dalam diri sang pangeran.
Dan si pangeran itu memanglah baik budi bahasanya
Dia seorang pangeran terdidik dan terpelajar
Sopan dan santun
Memberi sang putri sanjungan yang sepantasnya diterima seorang putri kerajaan terhormat seperti dirinya.
Memang dia adalah pangeran yang amat bersahaja
Karena dirinya memang seorang pemimpin suatu kerajaan.
Maka bertanyalah sang putri kepadanya:
Hai pangeran, aku telah menunggu dalam tidur sekian lama. Begitu lama sehingga rona merah wajahku pun telah hilang karena tertidur.
Aku menunggumu, menunggu kecupanmu.
Aku menunggu begitu sabar untuk mendapatkanmu mendapatkanku.
Sampai akhirnya aku lelah menunggu, dan aku terbangun untuk mencarimu.
Kenapa engkau tidak datang juga?
Pangeran yang baik hati itu terdiam.
Dia termenung begitu lama sebelum akhirnya menjawab:
Wahai putri, engkau adalah putri yang begitu cantik.
Begitu lembut, sehingga maafkanlah aku bila nanti jawabanku menyakitimu.
Pangeran itu kemudian terdiam lagi, menghela nafas begitu panjang sebelum menjelaskan:
Putri yang cantik. Maafkan aku, karena aku bukanlah pangeranmu.
Aku bukanlah pangeran yang harus datang dan membangunkan tidur panjangmu.
Maafkan aku bila aku tidak mencarimu, karena bukan tugaskulah untuk membangunkanmu.
Sebenarnyapun aku hanyalah sedang berjalan melewati jalanan kota asing ini, dan menemukanmu sedang berbicara denganku.
Si putri terkejut.
Dan bukan salahnyalah bila kemudian dia menangis.
Begitu sedihnya, karena menyadari pangerannya, pangeran yang sedang berada dihadapannya ini tidak pernah sekalipun berusaha mencarinya.
Pangeran yang sedih itu kemudian melanjutkan, berusaha menjelaskan kepada putri yang berhati lembut itu:
Hai putri, tahukah kamu ada begitu banyak pangeran didunia ini?
Tidak hanya ada aku dan kamu, tidak hanya ada dua kerajaan didunia ini.
Ada masih banyak lagi dunia yang belum kamu lihat.
Dan kamu, sang putri yang tertidur sekian lama, pangeranmu bukanlah aku.
Aku adalah seorang pangeran bagi sorang putri yang menunggu diatas menara dikerajaan nun jauh disana.
Tugasku adalah untuk membawa dia turun dari menara terpencilnya itu.
Sedangkan kamu, wahai putri jelita berwajah begitu manis
Pangeranmu mungkin masih menunggu diluar sana.
Atau mungkin dia sudah melewati kerajaanmu tetapi tidak tahu kalau kamu ada didalamnya.
Mungkin pangeranmu tidak teliti mencarimu, mungkin dia begitu tergesa-gesa ingin bertemu denganmu sehingga tidak lagi mencarimu disetiap jalan-jalan kecil.
Mungkin pangeranmu adalah seorang pejalan kaki yang terlalu tekun mencari setiap sudut setiap waktu, sehingga masih lama adanya dia akan sampai disisimu.
Mungkin pangeranmu tidak tahu dimana kerajaanmu.
Karena seperti kataku tadi, ada begitu banyak kerajaan didunia ini.
Putri tertegun, dan dengan keluguannya berkata pada sang pangeran
:Tetapi aku mencintaimu.
Aku jatuh cinta padamu saat aku pertama kali menatap wajahmu.
Kenapa bukan kamu yang datang dan membangunkanku?
Pangeran, si pemuda baik hati itu tersenyum. Tersanjung atas kata-kata putri yang begitu rendah hati.
: Hai putri. Aku bukan pangeranmu. Satu kecupan dariku tidak akan pernah bisa membangunkanmu dari tidurmu.
Si putri terdiam. Sedih, dia berkata
:Putri macam apa aku ini?
Seorang putri sesedih apa yang begitu tidak sabaran menunggu pangeran yang tepat datang kesisinya, menunggu dibangunkan olehnya?
Sesedih apakah aku, sehingga aku harus bangun sendiri dan bertemu engkau, wahai pangeran yang salah?
Kenapa tidak ada yang mencariku hingga saat ini?
Untuk terakhir kalinya si pangeran baik hati itu berkata
: Putri, tidak semua putri bertemu pangeran yang tepat dalam sekali pandangan mata.
Tidak setiap pangeran bertemu putrinya dalam sekali tempuh perjalanan.
Contohnya aku dan kamu.
Aku masih harus berjalan sedemikian jauhnya lagi untuk bertemu dengan putriku.
Dan kamu masih harus menunggu sekian lamanya untuk bertemu dengan pangeranmu.
Aku bisa saja menyerah bertemu putriku, dan memutuskan mengecupmu dan beristirahat selamanya di kerajaanmu.
Tetapi alangkah sedihnya, seribu kecupan dariku pun tidak akan pernah bisa membangunkanmu.
Sang pangeran, setelah berucap untuk terakhir kalinya menaiki kembali kudanya yang gagah.
Memakai kembali jubah untuk perjalanan jauhnya.
Menyarungkan kembali pedangnya untuk menempuh perjalan jauh.
Sementara si putri, si putri yang begitu cantik itu akhirnya tersenyum.
Dia meninggalakn sang pangeran baik hati itu jauh dibelakang, disertai doanya agar sang pangeran bertemu putrinya sendiri yang menunggu diatas menara.
Si putri tidur kita, kemudian duduk menunggu di tepi tempat tidurnya.
Sekirapun tidak ada penyesalan didalam hatinya.
Dia telah tumbuh menjadi seorang putri yang kuat hatinya
Dia pernah memutuskan tidak menyerah pada penantian.
Dia pernah memutuskan mencari pangerannya diluar sana.
Dan kalaupun ternyata pangeran itu adalah pangeran yang salah, si putri pun bersyukur.
Karena dia telah mendapat pelajaran yang indah, bahwa masih begitu banyak pangeran dan putri yang saling menunggu satu sama lain diluar sana.
Dia tersenyum.
Melihat kearah jendela.
Kalau-kalau nanti pangerannya lewat dan luput memperhatikannya didalam istanan, si putri akan memanggil pangeran itu.
Untuk mengingatkan dia dirinya tetap menunggu.
No comments:
Post a Comment